Curhatan Sang Pohon….( Untuk Sang Pecinta Alam)
Bismillahirrohmaanirrohiim…
"Berhenti dulu yuk, cape nih." Ajak temanku sambil merebahkan tubuhnya di tanah berbatu.
"Ok." Sahutku sambil menyandarkan punggungku di sebuah pohon besar setelah meletakkan ranselku. Hembusan angin gunung yang dingin membelai ujung jilbabku serta menyapu wajahku. Sejuk dan dingin. Ah, aku yakin dalam hitungan detik mataku tak akan tahan dengan rayuan sang angin. Mataku akan terpejam. Hem, dasar pelor! Ejekku pada diriku sendiri. teman-temanku menjuluki aku pelor alias nempel molor karena kebiasaanku yang mudah tidur dimanapun berada. Bahkan aku sempat tertidur ketika sedang mengadakan aksi di Monas bersama teman BEM padahal rekan-rekanku sedang semangat berorasi menentang kebijakkan pemerintah saat itu. Ah, aku pikir hal ini lebih baik daripada aku terkena insomnia seperti temanku toh meski mudah tidur aku juga mudah untuk bangun. Akhirnya kelopak mataku menutup bola mataku.
" Ayyash…" Sebuah suara lembut menegurku. Dekat sekali tapi darimana aku tidak tahu.
" Ya." Sahutku sambil mencar-cari sumber suara itu.
"Ini aku. Aku pohon yang kau sandari. Aku pohon yang daunku tergerak oleh angin dan membelaimu, Ayyash."
"Oh…" Adrenalinku naik demi mendengar pengakuan itu. Pohon ini berbicara kepadaku. A miracle!
"Ayyash, aku ingin katakan sesuatu padamu."
"Tentang apa, pohon? Aku mencoba tenang dan ber SKSD.
"Bagaimana rasanya jika kau tersayat pisau?"
"Pedih, perih , sakit."
"Ayyash, aku sedang merasakan perih, pedih dan sakit itu." Kata pohon mulai terisak.
" POhon, kamu tersayat? Apakah dalam berfotosintesis kamu menggunakan pisau seperti kami, manusia?"
" Tentu tidak ayyash.Kamu tentu tahu sudah tak terhitung lagi berapa banyak orang yang bersandar di tubuhku, merasakan rimbunya daunku, dan dengan bantuan saudaraku, angin daunku laksana kipas raksasa yang mengeringkan keringat mereka dan membuat tertidur dalam istirahat singkat mereka."
" Lalu?"
" Tapi ada diantara mereka yang melukaiku. Mereka menyayat kulitku.Pedih." Isak sang pohon makin mengeras. Aku terdiam. Berempati.Ah, pohonpun merasakan sakit karena ia memang hidup. Ia juga akan mati seperti aku. Ia hidup dan tentu punya hak hidup. Tak ada yang berhak menyakitinya.
" Pohon, aku bisa mngerti. Tapi…apa kau akan menuntut mereka di akhirat kelak?"
" Tentu saja."
" Kau tak bisa memaapkan mereka?"
" Andai aku bisa, ayyash..Tapi aku tercipta juga untuk menguji manusia. Kenapa mereka tidak menjabar sebuah ajaran universal yang di dalamnya juga mengajarkan bagaimana bermuammalah dengan makhluk lain, seperti aku?"
" Iya pohon, aku mengerti. Emm..boleh kulihat lukamu?"
"Bangun neng pelor. Kalo tidur mulu’ kapan kita mau sampe?" Temanku menggunjang bahuku.
Aku terkejut." Oh, pohon! "
" Pohon? " Kata temanku penuh tanya.
Aku cepat-cepat meraba tubuh pohon dan …ah, luka itu ada. Beberapa huruf terukir di tubuh pohon. Aku cepat-cepat meraih ranselku mencari-cari scraftku. Ketemu. Aku balut tubuh pohon itu. Temanku memegang dahiku untuk memastikan aku masih waras.
Aku merasa kasihan dengan orang yang mengukir huruf-huruf di pohon itu. Kau akan dituntut kawan. Semoga saja timbangan amal kebaikanmu banyak sehingga tuntutan pohon tidak membuat amal kebaikan mu itu habis di hari hisab kelak.
Teman-temanku protes ketika scraft aku tinggalkan begitu saja melilit di pohon itu. Ah, biarkan saja toh mereka tidak tahu bahwa pohon itu baru saja bercurhat kepadaku….
:
