Tö3mpLek bl3g..

November 29, 2006

Nasi bikin kita Miskin dan Bodoh

Filed under: Info

Ketimbang mengkonsumsi protein, kita termasuk boros memakan karbohidrat, terutama nasi dan mie instan. Selain terkenal sebagai pemakan nasi yang akut, bangsa kita juga tercatat sebagai pengkonsumsi mie per kapita terbesar di dunia setelah Korea. Mungkin wajar, karena kita membutuhkan banyak tenaga otot ketimbang tenaga otak.

Karbohidrat memang fungsi utamanya menghasilkan tenaga bagi tubuh. Tapi ada karbohidrat yang cepat sekali diolah menjadi tenaga, juga ada karbohidrat yang lebih lama diolah tubuh. Nasi termasuk golongan karbohidrat pertama. Sementara gandum, kentang, dan sebagainya termasuk golongan karbohidrat kedua.

Terlalu banyak memakan karbohidrat yang terlalu cepat diolah tubuh jelas tidak baik. Ketika kita tidak lagi membutuhkan tenaga otot melainkan tenaga pikiran, tenaga yang kadung terbentuk segera diubah menjadi lemak. Selain menjadi tumpul dalam pikiran, kita juga jadi gampang mengalami kegemukan.

Orang Indonesia rata-rata mengkonsumsi nasi sebanyak 136,5 kg/tahun. Angka ini terbesar di dunia. Orang Indonesia tanpa nasi dianggap belum makan. Bahan makanan lain seperti protein, mineral, dan vitamin jadi kurang asupannya. Nasi sentris, selain boros, juga membuat postur tubuh rata-rata orang Indonesia lebih pendek dari bangsa lain yang konsumsi proteinnya lebih tinggi.

Kalau melihat upah minimum Amerika sebesar $5,15 per jam, maka diperlukan hanya 30 menit buat orang miskin Amerika untuk bisa membeli sepotong Big Mac. Bandingkan dengan UMR Jakarta sebesar Rp 816 ribu per bulan atau sekitar Rp 4.000 per jam. Orang miskin di Indonesia harus bekerja setidaknya 1 jam untuk bisa makan satu kali.

Nah, mencari sumber makanan yang bergizi adalah urgent. Namun, menurunkan komponen biaya dasar tersebut bagi masyarakat golongan kecil juga penting.

Ada pola dasar bahwa semakin miskin penduduk suatu negara, maka semakin besar porsi belanja makanan mereka. Kalau kita ingin meningkatkan kesejahteraan kita, maka kurangi porsi belanja makanan kita. Alternatifnya bisa dengan mengurangi porsi makan atau memilih makanan dengan komposisi gizi yang lebih baik dan harga lebih murah.

Gandum sebagai Alternatif

Gandum adalah bahan komoditi yang cukup banyak digunakan di berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari roti, kue, biskuit, sereal, mie, martabak, chappati, bakpao, pizza, croissant, dan sebagainya.

Bagaimana dengan harga dan komposisi gizinya?

Harga gandum menurut pasar komoditi LIFFE sekitar $175 per ton untuk kualitas terbaik. Harga beras lokal kualitas medium sekitar Rp 5.000/kg atau setara $550 per ton.

Menurut Nutrition Data, kandungan energi nasi sekitar 97 kalori per 100 gram. Sementara kandungan energi roti sekitar 361 kalori per 100 gram.

Kebutuhan energi minimal seorang manusia dalam sehari sekitar 2.000 kalori. Ini bisa dipenuhi dengan 2 kg beras (setara Rp 10.000) atau dengan 500 gram gandum (setara Rp 800).

Walaupun kandungan kalorinya lebih tinggi, membuat roti membutuhkan lebih sedikit volume gandum/terigu daripada membuat nasi yang membutuhkan volume beras yang lebih banyak. Di sini terlihat jelas bahwa beras/nasi jelas kurang ekonomis dibandingkan roti/gandum.

Menurut data Bogasari, konsumsi gandum Indonesia per kapita hanya sebesar 15 kg. Jauh di bawah Singapura (71 kg) atau Malaysia (40 kg).

Asumsikan fisiologis perut orang Indonesia dengan orang Singapura/Malaysia sama, maka seharusnya pengurangan konsumsi beras oleh orang Indonesia — dan menggantinya dengan gandum — sebenarnya mudah dilakukan.

Lalu, Bagaimana Cara Menolong Petani?

Meningkatkan kesejahteraan petani dan kaum marjinal lainnya jelas penting. Tapi tidak selalu menghentikan impor beras dan memproteksi pasar beras otomatis akan menolong petani. Sebaliknya, membuka impor beras seluas-luasnya juga tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan kaum marjinal.

Perlu diingat juga bahwa tidak semua rakyat adalah petani. Harga beras terlalu mahal akan memusingkan rakyat kecil non-petani, seperti kaum miskin kota. Jumlah mereka mencapai puluhan juta dan komponen biaya hidup mereka masih berkutat di level subsistensi dengan pos pengeluaran makanan sebagai komponen terbesar.

Ingat juga soal inflasi. Beras adalah komponen pembentuk inflasi yang signifikan. Inflasi naik tinggi, rakyat kecil (dan petani juga) akan terkena dampaknya. Sekalipun petani mengalami perolehan panen yang meningkat, uang yang diperoleh petani akan turun daya belinya sehingga komponen biaya untuk menanam padi pada musim berikutnya menjadi lebih mahal.

Ingat pula bahwa petani adalah penghasil gabah, bukan penghasil beras. Beras justru dipegang oleh pedagang dan saudagar beras yang umumnya beroperasi ala kartel. (Tetangga saya adalah saudagar beras, dan saya cukup tahu betul soal ini.)

Membiarkan sektor pertanian dalam produktifitas rendah dan tidak berdaya saing juga bukan merupakan pilihan bijak. Cepat atau lambat, produk pertanian akan dibuka karena paksaan WTO maupun gerilya produk selundupan.

Juga, jangan terlalu terjebak dengan retorika politik “bela si X” atau “bela kepentingan Y”. Kita harus sadar bahwa semakin berkembang ekonomi suatu negara, maka semakin sedikit jumlah tenaga kerja yang terlibat dan semakin meningkat jumlah hasil produksinya. Hasil meningkat berarti harga menurun karena konsumsi makanan umumnya statis. Ekonomi Indonesia tak mungkin berkembang jika lapangan kerja terkait semata pada sektor pertanian dan pemenuhan kebutuhan subsisten.

Dari faktor-faktor di atas, akan muncul skala ekonomis yang secara gradual akan menjadi mekanisme untuk menyeleksi petani. Hanya petani yang benar-benar kompeten yang akan bisa dipertahankan. Dengan demikian, petani menjadi lebih produktif (sejahtera) dan rakyat (konsumen) bisa mendapatkan produk yang lebih baik dengan harga lebih terjangkau.

 dikutip dari nofieiman

November 26, 2006

Sukses? Jangan Bermental Pengemis!!

Filed under: Info
Salah satu ajaran Rasulullah saw, yang berkaitan dengan manajemen diri adalah Sukses dengan membiasakan diri untuk tidak bermental pengemis.

Salah satu hadis riwayat Abu Dawud, Nasai, dan Tirmidzi, dikisahkan bahwa seorang laki-laki dari golongan Anshor datang menghadap Rasulullah saw. Dia memohon agar Rasulullah saw memberinya sesuatu untuk dimakan. ‘’Memang kamu tidak mempunyai sesuatu di rumah?'’ tanya Rasulullah.

‘’Tentu saja ada wahai Rasulullah. Saya masih mempunyai sehelai kain yang sebagiannya kami pakai dan sebagian lainnya kami hamparkan, serta sebuah gelas besar tempat kami minum air,'’ jawab laki-laki itu.

Nabi kemudian menyuruhnya membawa dan memperlihatkan barang-barang itu kepadanya. Si laki-laki Anshor itu lalu membawa barang itu dan menyerahkannya pada nabi. ‘’Siapa yang akan membeli barang-barang ini?'’ kata nabi. Seorang laki-laki berkata, ‘’Aku berani dengan harga satu dirham.'’

Rasulullah menimpali, ‘’Siapa yang akan menambah lebih dari satu dirham?'’ Seorang laki-laki berkata, ‘’Aku mengambilnya dengan harga dua dirham.'’ Nabi kemudian memberikan dua barang itu kepada penawar terakhir dan mengambil dua dirham itu, lalu memberikannya kepada lelaki Anshor tersebut. ‘’Belikan makanan dengan salah satu dari dua dirham ini lalu berikan kepada keluargamu, dan belikan sebuah kapak dengan satu dirham lainnya kemudian bawalah kapak tersebut kepadaku.'’

Si laki-laki Anshor itu pun bergegas melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah saw. Dia menyerahkan kapak yang baru dibelinya kepada Rasulullah saw. Setelah itu, Rasulullah saw memberikan pegangannya, lalu bersabda, ‘’Pergi dan carilah kayu bakar, kemudian juallah. Aku tidak ingin sama sekali melihatmu selama lima belas hari.'’

Setelah mengerjakan perintah Rasulullah saw itu, datanglah laki-laki Anshor itu membawa 10 dirham kemudian membeli makanan dengan sebagian dari uang itu. Rasulullah bersabda, ‘’Ini lebih baik daripada kamu meminta-minta karena hal itu hanya akan menjadikan noda di wajahmu pada hari kiamat nanti.'’

Ada beberapa hikmah sangat penting yaitu;

Pertama, hindarkan sikap meminta, sebab bisa melemahkan kegigihan jiwa untuk menghadapi hidup ini;

Kedua, Isi perut kita dari hasil keringat sendiri agar halal prestatif, bukan halal karena belas kasihan orang, apalagi karena sebel;

Ketiga, Berani menghadapi resiko psikologis dengan cara ada rentang waktu kegigihan tidak merengek-rengek minta bantuan misalnya 15 hari seperti terapi psikologis yang dilakukan Rasululullah saw.

Dari Abu Hurairah r.a.: Nabi SAW berkata, “Apabila aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, aku akan sangat menyukainya, dan sebelum tiga hari berlalu, tak ada sedinar pun akan tersisa bila aku menemukan seseorang yang berhak menerimanya di luar sejumlah daripadanya yang aku simpan untuk membayar hutang-hutangku.”

November 18, 2006

Realita kematian..!

Filed under: Renungan

Kita kan pasti menghadapinya,sejenak kita renungankan diri menghadapi mati
Hanya ingin mengingatkan dan mengerti diri kita, semoga membekas di hati..
  • Setiap Hari Ahli Kubur Menyeru Manusia Sebanyak Lima Kali.
1. Aku rumah yang terpencil, maka kamu akan senang dengan selalu membaca Al-Quran.
2. Aku rumah yang gelap, maka terangilah aku dengan selalu sholat malam.
3. Aku rumah yang penuh dengan tanah dan debu, maka bawalah amal sholeh yang menjadi hamparan.
4. Aku rumah ular berbisa, maka bawalah amalan Bismillah sebagai penawar.
5. Aku rumah pertanyaan Munkar dan Nakir, maka banyaklah bacaan "Laa ilahaillallah, Muhammadar Rasulullah", supaya kamu dapat jawaban kepadanya.
  • Lima Jenis Racun Hati dan Penawarnya
1. Dunia itu racun, Zuhud itu obatnya
2. Harta itu racun, Zakat itu obatnya
3. Perkataan yang sia-sia itu racun, Dzikir itu obatnya
4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya
5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya

  • Orang Yang Tidak Melakukan Sholat
SUBUH : Dijauhkan dari cahaya muka yang bersinar
DZUHUR : Tidak diberikan berkah dalam rezekinya
ASHAR : Dijauhkan dari kesehatan/kekuatan
MAGHRIB : Tidak diberi santunan oleh anak-anaknya
ISYA : Dijauhkan kedamaian dalam tidurnya

Nuadzubillah…..,mari kita renungkan bersama di diri kita masing².

November 16, 2006

Bekerja..

Filed under: Uncategorized, Renungan

Untuk apa kita bekerja?

Apa kita bekerja untuk makan? Atau kita makan untuk bekerja? Semua orang bekerja. Menanggung lelah; menahan jengkel; memeras pikiran; mengucurkan keringat; menghabiskan tenaga; membanting tulang dari pagi sampai sore.

Bayangkanlah paramedis di UGD yang seharian berdiri menunduk menjahit robekan tubuh korban yang mengerang kesakitan karena ususnya terburai. Atau seorang masinis kereta api yang pukul tiga pagi sudah menyalakan tungku batu bara lokomotif. Atau bahkan bayangkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga, yang tak pernah ada habisnya. Untuk apa mereka bekerja? Untuk apa kita bekerja?

Kita bekerja untuk mendapat nafkah. Sesempit itukah tujuan kerja? Apa hidup ini hanya bertujuan untuk mencari nafkah?

Kita adalah makhluk yang lebih dari sekedar punya mulut dan perut tok. Kita memiliki martabat dan hati nurani. Martabat diri itu tidak akan terwujud dengan hanya ongkang kaki. Karena itulah kita bekerja. Dengan bekerja diri kita diaktualkan. Dengan bekerja diri kita jadi berarti dan memberi arti.

Punya arti dan memberi arti bisa dilakukan tiap orang, betapa pun ?kecil? pekerjaannya. Yang diperbuat seorang penjaga pintu lintasan kereta api bukan sekedar menjaga pintu kereta, tapi menjaga puluhan nyawa manusia. Yang diperbuat ibu bukan sekedar menyiapkan nasi, melainkan menyiapkan masa depan anak-anaknya.

Setiap orang perlu bekerja. Sebab itu, yang diberikan Tuhan kepada Adam pertama-tama adalah pekerjaan, bukan istri. Belajarlah dari semut, yang bekerja dengan rajin dan tekun, tidak banyak bicara dan tidak egois. Kerja adalah ibarat senar gitar. Terlalu kencang dia putus, terlalu kendor malah tidak bunyi.

Kita bekerja karena Tuhan itu bekerja. Tiap pagi Tuhan membangunkan surya. Tiap petang Ia menidurkan senja. Ia meniup awan. Ia meneteskan hujan. Ia menghidupkan indung telur. Ia menghembuskan napas kehidupan ke jabang bayi. Ia mengajar ikan berenang. Ia mengawasi merpati yang terbang kian kemari.

Ketika kita bekerja, Tuhan berada di dekat kita. Sekali-kali ia menoleh kepada kita. Ia tahu bahwa kita letih. Ia juga letih. Ia pun mengangguk kagum melihat kita saat mengerjakan tugas dengan ketekunan.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan…”
Kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti. Kita bekerja supaya hidup ini memberi arti. Hidup ini Cuma sekali. Sekali berarti sesudah itu mati. Pertanyaannya, apakah hidup kita sekarang ini sudah memiliki arti dan memberi arti?dibatas apakah budi dan rasa terimakasih kita?

Selamat bekerja. Selamat berkarya.

Untuk apa kita bekerja?

Apa kita bekerja untuk makan? Atau kita makan untuk bekerja? Semua orang bekerja. Menanggung lelah; menahan jengkel; memeras pikiran; mengucurkan keringat; menghabiskan tenaga; membanting tulang dari pagi sampai sore.

Bayangkanlah paramedis di UGD yang seharian berdiri menunduk menjahit robekan tubuh korban yang mengerang kesakitan karena ususnya terburai. Atau seorang masinis kereta api yang pukul tiga pagi sudah menyalakan tungku batu bara lokomotif. Atau bahkan bayangkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga, yang tak pernah ada habisnya. Untuk apa mereka bekerja? Untuk apa kita bekerja?

Kita bekerja untuk mendapat nafkah. Sesempit itukah tujuan kerja? Apa hidup ini hanya bertujuan untuk mencari nafkah?

Kita adalah makhluk yang lebih dari sekedar punya mulut dan perut tok. Kita memiliki martabat dan hati nurani. Martabat diri itu tidak akan terwujud dengan hanya ongkang kaki. Karena itulah kita bekerja. Dengan bekerja diri kita diaktualkan. Dengan bekerja diri kita jadi berarti dan memberi arti.

Punya arti dan memberi arti bisa dilakukan tiap orang, betapa pun ?kecil? pekerjaannya. Yang diperbuat seorang penjaga pintu lintasan kereta api bukan sekedar menjaga pintu kereta, tapi menjaga puluhan nyawa manusia. Yang diperbuat ibu bukan sekedar menyiapkan nasi, melainkan menyiapkan masa depan anak-anaknya.

Setiap orang perlu bekerja. Sebab itu, yang diberikan Tuhan kepada Adam pertama-tama adalah pekerjaan, bukan istri. Belajarlah dari semut, yang bekerja dengan rajin dan tekun, tidak banyak bicara dan tidak egois. Kerja adalah ibarat senar gitar. Terlalu kencang dia putus, terlalu kendor malah tidak bunyi.

Kita bekerja karena Tuhan itu bekerja. Tiap pagi Tuhan membangunkan surya. Tiap petang Ia menidurkan senja. Ia meniup awan. Ia meneteskan hujan. Ia menghidupkan indung telur. Ia menghembuskan napas kehidupan ke jabang bayi. Ia mengajar ikan berenang. Ia mengawasi merpati yang terbang kian kemari.

Ketika kita bekerja, Tuhan berada di dekat kita. Sekali-kali ia menoleh kepada kita. Ia tahu bahwa kita letih. Ia juga letih. Ia pun mengangguk kagum melihat kita saat mengerjakan tugas dengan ketekunan.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan…”
Kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti. Kita bekerja supaya hidup ini memberi arti. Hidup ini Cuma sekali. Sekali berarti sesudah itu mati. Pertanyaannya, apakah hidup kita sekarang ini sudah memiliki arti dan memberi arti?dibatas apakah budi dan rasa terimakasih kita?

Selamat bekerja. Selamat berkarya.

Next Page »

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Gary Rogers